Sebagai ibu dari 3 bocah yang 2 diantaranya sedang aktif-aktifnya minta perhatian, maka pekerjaan domestik rumah tangga sangat menguras energi, pikiran dan emosi. Sepulang sekolah sore hari sampai pagi menjelang berangkat sekolah lagi, tak luput dari masalah rumah tangga berganti - ganti. Tak jarang, pikiran tentang masalah teraebut ikut terbawa sepanjang perjalanan menuju sekolah. Membuat wajah merengut, bibir kecut, pikiran kalut, emosi mengerucut.
Namun, semua itu akan sirna seketika, ketika terdengar sapaan anak -anak yang dengan ceria menghampiriku, menyalamiku dan terkadang mengikutiku hingga sampai di kelas. Seperti disulap, raut wajahku berganti rupa. Yang semula kusut, berubah cerah bahagia. Celotehan mereka mampu melenyapkan segala huru hara, gundah gulana.
Maka, nikmat manakah yang tidak aku syukuri. Pengobat hati mudah aku dapatkan di tempatku mengais rizki. Di tempatku menghamparkan sajadah perjuangan di jalan pendidikan. Mereka yang menyebutku sebagai guru, justru bagiku mereka adalah guru. Guru - guru kecil yang banyak mengajariku banyak hal tentang hidup.
Terimakasih guruku.
Maka, nikmat manakah yang tidak aku syukuri. Pengobat hati mudah aku dapatkan di tempatku mengais rizki. Di tempatku menghamparkan sajadah perjuangan di jalan pendidikan. Mereka yang menyebutku sebagai guru, justru bagiku mereka adalah guru. Guru - guru kecil yang banyak mengajariku banyak hal tentang hidup.
Terimakasih guruku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar