Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2021

7 Alasan Pentingnya Portal Rumah Belajar

    

Di era pesatnya teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, digitalisasi sudah merambah ke berbagai lini kehidupan. Revolusi indutri 4.0 tampak semakin dekat dan dipercepat dengan adanya pandemi virus Covid 19. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Digitalisasi pendidikan secara signifikan sudah mulai tampak sejak 2 tahun belakangan, dimana sistem belajar daring diterapkan. Sumber belajar mulai dikembangkan oleh berbagai developer, khususnya swasta (komersil) untuk memenuhi permintaan pelaku pendidikan, berupa kebutuhan-kebutuhan pembelajaran daring.  

Sabtu, 09 Mei 2020

Tipe Metabolisme



Menurut tipe metabolisme tubuh, orang - orang dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe. Tipe pertama adalah ectomorph. Yaitu tipe orang yang sudah makan banyak, sering nyemil, bahkan minum suplemen penambah berat badan tapi berat badannya begitu - begitu saja, kurus, kerempeng, maka ia tergolong tipe ectomorph. Orang tipe ini, memiliki fungsi metabolisme yang tinggi dan tergolong hardgainer, susah meningkatkan massa otot dan menyimpan lemak.

Tipe kedua adalah mesomorph. Ini adalah tipe idaman, dimana massa otot padat tetapi berat badan tetap ideal. Tipe ini sering dikenal dengan atletis. Metabolisme sedang, dengan pola makan normal mereka tidak khawatir akan pertambahan berat badan atau sebaliknya. Sepertinya orang tipe ini adalah orang yang paling bahagia karena bisa menikmati hidup.

Jumat, 08 Mei 2020

Quantum Learning


Sekian lama beradaptasi dengan model pembelajaran kuantum, baru sekarang saya benar-benar menelaah. Kebetulan ini menjadi obyek simulasi penelitian Pemantapan Kemampuan Profesional yang baru saja saya selesaikan. Setelah menelaah lebih jauh fakta pembelajaran kuantum ternyata lebih mengejutkan daripada apa yang saya pahami selama ini. Menurut analisis saya, model pembelajaran kuantum sangat sesuai dengan karakteristik kebutuhan siswa Sekolah Dasar. Sesuai dengan filosofinya, prinsip pembelajaran ini adalah menghadirkan kegiatan belajar yang gembira, menyenangkan dan menyentuh hati (bermakna). Dengan penerapan kerangka pembelajaran TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi dan Rayakan), model pembelajaran ini memungkinkan siswa bergerak, belajar dan bekerja dalam kelompok, memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran, serta menumbuhkan motivasi dan semangat yang tinggi dalam aktivitas yang gembira dan menyenangkan.

Kamis, 07 Mei 2020

MEDIA PEMBELAJARAN

Tulisan ini saya buat pararel dengan pengerjaan laporan Pemantapan Kemampuan Profesional. Dalam keseharian, terkadang guru, termasuk saya, mengabaikan peran media dalam pembelajaran. Oleh karenanya, dalam penyampaian bahan ajar, guru hanya menjelaskan secara lisan sehingga memungkinkan terjadinya verbalisme konsep/teori. Penyediaan media pembelajaran, terkadang terkendala, kurangnya waktu persiapan, tidak adanya perencanaan pembelaran sebelumnya, media yang sulit didapat karena keterbatasan unit atau terlalu memakan biaya. Maka, jadilah KBM ala - ala, tanpa media, tanpa rencana, diperparah dengan pemilihan metode sejuta umat, yaitu metode ceramah. Tidak heran jika tujuan pembelajaran tidak tercapai maksimal.

Menurut teori Piaget, anak usia Sekolah Dasar, berada dalam tahapan  perkembangan kognitif operasi konkret. Pada tahap tersebut pola pikir anak berada dalam tahap berpikir konkret sehingga dalam proses pembelajaran, mereka harus dihadapkan dengan benda - benda konkret karena alaminya, mereka belum mampu memahami hal - hal yang bersifat abstraK. Maka, penggunaan media sangat penting dalam pembentukan ide/gagasan terhadap konsep atau teori tertentu. Tanpa media, pembelajaran yang dilaksanakan dapat disebut menyalahi kodrat anak, yang artinya jika tujuan pembelajaran tidak tercapai, maka itu bukanlah salah anak(siswa), melainkan letak kesalahan ada pada guru.

Senin, 20 April 2020


Guru jaman now dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengelola pembelajaran. Guru harus mampu mengakomodir kebutuhan pesera didik yang tentu saja berkembang dan berubah dari masa ke masa. Kegiatan belajar mengajar, bukan lagi hanya transfer informasi dari guru ke siswa, namun berisi misi penting didalamnya yaitu membangun nilai dan inspirasi. Perkembangan teknologi, membawa sistem baru di dunia pendidikan yaitu sistem belajar terdigitalisasi. Kelas digital sudah banyak diadaptasi, meskipun belum semua sekolah mampu menjangkau program belajar digital ini, karena sarana dan prasarana yang belum terfasilitasi.

Baik kelas konvensional maupun kelas digital, semua pembelajaran akan tidak berarti jika guru tidak mampu mengelola kelas secara kreatif dan inovatif. Tantangan terbesar guru adalah bagaimana menjadikan pembelajaran sesuai dengan prinsip 3M (Mudah, Menyenangkan dan Menyentuh hati). Apakah siswa sudah merasakan pembelajaran yang mudah, menyenangkan dan menyentuh hati?  Kenyataannya, banyak siswa yang stres karena tekanan berupa tugas – tugas yang tidak masuk akal. Mereka mengalami stres belajar antara lain disebabkan oleh tekanan akademik. Siswa tidak nyaman dengan guru yang mengajar dan materi yang sulit dipahaminya. Juga penggunaan metode yang tidak sesuai dan strategi yang monoton. Penyebab yang kedua adalah tekanan sosial, berupa tuntutan dari keluarga agar anak selalu berprestasi, selalu mendapatkan nilai yang perfect dan lebih unggul dari teman sekelasnya atau teman sebayanya.

Sabtu, 18 April 2020

Trik Pencarian di Google Search


Sekian lama berinteraksi dengan yang namanya mbah Google, ternyata saya tidak tahu kalau dalam pencarian atau istilah kerennya googling, terdapat trik yang bisa diaplikasikan. Berikut ini adalah beberapa triknya :

Pertama, gunakan tanda kutip untuk mencari kalimat dengan urutan kata yang sama persis dengan kalimat yang kita tuliskan di kolom google search, sehingga informasi yang didapatkan spesifik. Contohnya : “bentuk daun berdasarkan susunan tulang daun”, maka hasil pencarian akan memunculkan informasi spesifik sama seperti keyword yang dituliskan dalam tanda kutip ini.

Jumat, 17 April 2020

Pembeajaran Digital Ramah Anak (2)


Bagaimanakah pembelajaran digital ramah anak itu? Seperti yang sudah dikemukan sebelumnya, penggunaan perangkat digital, khususnya pada anak, harus memenuhi rambu – rambu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran Digital Ramah Anak. Tujuannya adalah menyiapkan anak menghadapi revolusi industri 4.0, sesuai dengan usia dan kebutuhan anak yaitu dengan memaksimalkan potensi anak, tetapi dibarengi dengan meminimalisir dampak negatif dari perangkat digital. Sebagai orang tua, tentu saja fenomena penggunaan perangkat digital ini menjadi dilema. Jika tidak mengenalkan perangkat digital pada anak, maka anak akan ketinggalan/gagap teknologi (gaptek). Apalagi di generasi mereka, sudah menjadi hal yang biasa, jika perangkat digital menjadi “mainan” sehari-hari, bahkan sebagian mereka sudah mahir dalam penggunaannya. Di sisi lain, jika orangtua mengenalkan perangkat digital pada anak, dan setelahnya lepas kontrol, anak bisa kecanduan dan terkena dampak negatif dari perangkat digital itu sendiri.

Kamis, 16 April 2020

Pembelajaran Digital Ramah Anak (1)


Menurut data dari Kualita Pendidikan Indonesa (KPI) dalam Kelas Digital (April, 2020), pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun 2018 ke 2019, tercata sebesar 1% , sedangkan pertumbuhan internet tercatat 13%, media sosial 15%, dan mobile media social sebesar 8.3%. Dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pertumbuhan internet dan media sosial 13 kali lebih besar dibandingkan pertumbuhan penduduk. Tahun 2013-2018 Indonesia Negara ke-6 pengguna internet tertinggi di dunia setelah China, US, India, Brazil dan Jepang. Menurut data dari Indonesia Millenial Report 2019 IDN Research Institute, sebanyak 94,4,% milenial Indonesia terkoneksi dengan internet*, 79% generasi milenial membuka smartphone 1 menit setelah bangun tidur. Sebanyak 30 juta anak Indonesia adalah pengguna internet.**

Rabu, 15 April 2020

Pengelolaan Digital Learning



Esensi dari pengelolaan digital learning sama dengan penggelolaan kelas seperti biasa, yaitu membentuk suasana kelas yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, dengan pengelolaan kelas guru dapat menghemat waktu dalam penyampaian bahan ajar dan penugasan, karena dengan suasana kelas yang kondusif, pembelajaran dapat berjalan efektif. Pengelolaan kelas juga secara tidak langsung, melatih kemandirian dan kolaborasi siswa selama proses pembelajaran

Penyelenggaran digital learning membutuhkan usaha dan persiapan yang tidak jauh berbeda dengan pembelajaran biasa di kelas. Guru harus mempersiapkan bahan ajar seperti, seperti slide presentasi dalam bentuk file ppt dan lembar penugasan (LKS). Bedanya, di digital learning, semua bahan ajar di sajikan dalam bentuk file bukan dalam bentuk fisik. Selain bahan ajar, tak kalah pentingnya guru juga mempersiapkan media pembelajaran. Di digital learning, media pembelajaran bisa disajikan melalui rekaman/video jika jenisnya medianya by design. Atau guru bisa mencari sumber media yang sudah tersedia di situs – situs pembelajaran online, sehingga guru tinggal mendownload dan memanfaatkan - media by utilization. Selain persiapan tersebut, dalam penyelenggaraan digital learning, guru memerlukan laptop/PC/smartphone, koneksi internet dan tool atau aplikasi belajar.

Senin, 13 April 2020

Era Belajar 4.0


Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini kita sudah masuk di era revolusi industri 4.0, dimana terjadi perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat. Di semua sektor, kerja manusia sedikit demi sedikit sudah mulai tergantikan oleh mesin. Delapan puluh tahun kedepan, bisa jadi hanya sedikit pekerja manusia, karena fungsi pekerjaan sudah terotomatisasi oleh teknologi internet yang tentu jauh lebih cepat. Maka untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, tentu diperlukan persiapan yang serius.

Dunia pendidikan tentu juga akan berubah. Kurikulum sudah mulai berbenah untuk mempersiapkan calon generasi abad 21. Pendidik harus siap merubah pembelajaran konvensional dengan pembelajaran digital, sesuai perkembangan teknologi. Mau tak mau, guru harus mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pembelajaran digital. Pandemi Covid 19 ternyata memberikan hikmah sebagai katalis bagi pembelajaran berbasis internet. Ruang kelas berpindah kerumah. Interksi KBM sepenuhnya secara daring. Rating download bermacam aplikasi belajar online, melonjak pesat.

Belajar online atau istilah kerennya e learning, mempunyai beragam bentuk. Tidak harus tatap muka sehingga peserta didik bisa belajar kapan saja dan dimana saja. E learning dikondisikan sedemikian fleksibel tanpa mengurangi esensi tujuan pembelajaran. Melihat peserta didik adalah generasi milenial kebawah, yang mana bercirikan mengutamakan gadget sebagai sumber informasi dan senang terhadap segala sesuatu yang cepat, mudah dan instan. Oleh karena itu pendidik harus mempunyai bekal bagaimana bisa berkolaborasi untuk mengelola, mencipta dan merancang sebuah pembelajaran dimana pembelajaran tersebut mampu mengakomodir ciri dan kebutuhan peserta didik jaman now tersebut.

Senin, 06 April 2020

K.E.P.O.



K. E. P. O. adalah istilah baru dalam kamus besar bahasa gaul Indonesia. Berangkat dari kepanjangan : Knowing Every Paticular Object, kemunculannya sebenarnya sudah lama dan sejak itu, istilah kepo cepat diadaptasi melalui sosial media dan juga melalui bahasa percakapan sehari - hari. Generasi milenial kebawah pastilah sudah tak asing lagi dengan maknanya. Kepo berarti ingin tau. Bisa juga berarti penasaran. Atau menurut translatenya, ingin tahu detail setiap hal.

Namun dalam perkembangannya, Kepo cenderung mengarah ke makna negatif, yaitu ingin tau rahasia seseorang, atau ingin tau gossip terbaru, atau ingin tau keburukan atau aib seseorang. Oleh karena itu, kepo sering ditujukan kepada seseorang dengan intonasi yang menyudutkan dan menghakimi. "Ihh..kepo!" atau "dasar kepo!" atau " ngapain sih kamu kepo banget deh", "jadi orang kok kepoan". seolah-olah istilah kepo ini bermakna negatif mau tau aja urusan orang.

Minggu, 05 April 2020

KereAktif



Jika saya boleh melahirkan istilah, maka menurut saya kreatif itu bukanlah adaptasi dari Bahasa Inggris Creative, tetapi bermula dari dua kata "kere" dan "aktif". "Kere" dalam istilah Jawa berarti miskin. Menurut filosofi hidup, karena keterbatasan dan serba kekurangannya, orang miskin itu akan jadi aktif melakukan sesuatu yang inovatif untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Ide - ide brilian, gagasan spektakular tak terduga lahir dari mereka yang terjerat oleh pakasaan kehidupan.

Mengalami sendiri bagaimana susahnya hidup dalam keterbatasan. Meskipun bapak saya PNS, namun kondisi keluarga kami tidak jauh berbeda dari kondisi keluarga lainnya. Di desa yang sebagian penduduknya hidup sederhana dari bertani, berternak dan berdagang, tentu laju perekonomian sangat lambat, apalagi kegiatan penduduk desa hanya skala lokal. Tahun sembilan puluhan, kala itu saya dan keluarga pindah ke desa kakek nenek dari Timor-timor, saat tugas pengabdian bapak berakhir. Waktu itu, Tim - tim, sebutan kerennya, masih menjadi bagian NKRI sehingga saya dan keluarga belum bisa dibilang "habis dari luar negeri". Umur saya 6 tahun waktu itu. Kondisi di desa tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal saya sewaktu di Tim-tim, sehingga saya tidak sulit beradaptasi. Jika orang bilang "masa kecil kurang bahagia", maka itu tidak berlaku bagi saya. Masa kecil saya sangat bahagia. Tentu tidak semuanya akan saya ceritakan disini, karena panjang kali lebar.