Minggu, 26 April 2020

HONOCOROKO



Pelajaran esde yang paling membuat frustasi adalah pelajaran Bahasa Jawa. Bagaimana tidak, saya murid pindahan yang sebelumnya cuma bisa Bahasa Indonesia. Sudah dapat dipastikan, bagaimana melongonya aku mendengarnya, tak beda dengan bahasa planet dari galaksi antah berantah.

Di rumah, kakek nenekku berbahasa Jawa. Demikian pula tetangga dan teman-temanku. Orangtuaku pun cepat beralih bahasa. Karena pada dasarnya mereka orang asli desaku. Merantau beberapa tahun, tidak akan mudah menghilangkan penguasaan Bahasa Jawanya. Masalah adalah aku. Karena Bahasa Indonesiaku yang menurut mereka aneh, aku jadi bahan tertawaan teman-temanku. Mereka suka menirukan kata atau kalimat yang aku ucapkan. Seperti misalnya aku ditertawakan ketika bilang "sandal", karena menurut mereka yang betul adalah "sendal". Sepele kan??

Jumat, 24 April 2020

Ramadhan Jaman Dulu




Hari ke-20 tantangan menulis, bertepatan dengan 1 Ramadhan. Alhamdulillah, atas izin Allah aku kembali berjodoh dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Tidak ada kebahagian yang lebih membahagiakan, dibanding pertemuan istimewa dengan 1 Ramadhan. Aku masih beruntung. Beberapa orang tak sempat karena Allah memanggil mereka, di hari-hari akhir menjelang Ramadhan. Qadarullah.

Karena pandemi corona, ramadhan tahun ini berasa sepi. Anjuran sholat tarawih dirumah musti dituruti. Nyaris tak berbeda dengan hari - hari biasa. Tapi, mau bagaimana lagi. Toh aku tak sendiri. Semoga dengan Ramadhan #dirumahaja tidak mengurangi esensi beribadah. Inshaallah, Aamin...

Setiap kali Ramadhan, mau tak mau ingatanku melayang kemasa lalu. Waktu itu saat aku masih esde. H-1 Ramadhan, aku dan teman-teman sepermainanku, pasti sudah heboh kerja bakti membersihkan Mushola. Kami cuci tikar di kali, menjemurnya hingga kerimg lalu sorenya menggelarnya lagi di lantai Mushola. Setiap sudut kami bersihkan, AlQuran dan Iqra kami rapikan. Lantai kami pel sampai bersih. Di rumah, mukena sudah dicuci bersih, disetrika, dikasih pewangi demi menyambut datangnya bulan suci. Hal yang tak ketinggalan adalah, sore hari sebelum tarawih pertama, kami mandi sebersih - bersihnya. Padusan namanya. Tujuannya adalah mensucikan diri dari hadast dan najis. Ah...serunya. Bagi kami, bulan puasa adalah bulan teramat sangat spesial yang dinanti - nanti.

Kamis, 23 April 2020

Review Materi Kepenulisan Artikel


Review pematerian kelas antologi oleh Mr Cahyadi Takariawan Dan Mrs. Ida Nur Laila.



Dalam dunia kepenulisan, dikenal dua jenis tulisan artikel yaitu, artikel ilmiah murni dan artikel ilmiah populer. Artikel ilmiah murni, lebih terikat pada ketentuan – ketentuan penulisan yang sudah distandarkan. Sedangkan, artikel ilmiah popular, penulisannya lebih fleksibel meskipun tetap mengacu pada rambu-rambu kepenulisan

Definisi tentang artikel dalam konteks artikel popular adalah, karya tulis yang berisi opini, gagasan, data, fakta, peristiwa atau analisa yang ditulis dengan gaya popular dengan tujuan-tujuan tertentu. Kekuatan artikel terletak pada gagasan, analisa dan opini penulis yang dikemukakan berdasarkan gaya penulis didukung oleh data atau fakta terkait. Sifat data atau fakta pendukung ini opsional. Seorang penulis tidak harus menggunakan referensi jika tidak diperluan, misalnya tulisan yang ditulis adalah murni ide atau gagasan sendiri.

Rabu, 22 April 2020

Tak Perlu Sepatu



Esde-ku terletak di kaki perbukitan. Jika musim hujan, sejauh mata memandang, tampak perbukitan berselimut hijaunya pepohonan. Untuk menuju ke sekolah, aku harus berjalan kaki sebentar, lalu menyeberangi sungai. Diseberang sungai adalah kebon (hutan) jati dan mahoni. Setelah 3 menit menempuh jalan setapak membelah kebon, akan tampak bangunan sekolahku. Gedung sederhana berbentuk letter L. Halamannya luas dengan 2 pohon cemara ditengah. Pohon cemara yang jadi saksi bisu, betapa bahagianya anak-anak bermain kasti, dan menjadikannya tempat menclok setelah berhasil memukul bola kasti tanpa kena embat bola. Sekolah sederhana, namun disanalah layar harapan dikembangkan, cita-cita ditinggikan.

Selasa, 21 April 2020

Lari : Kaki Mengejarmu



Aku teramat sangat menikmati masa kecilku. Oleh karenanya, banyak detail kejadian yang masih melekat hingga saat ini. Bagaimana bisa aku lupa, waktu itu aku dan teman-temanku dulu-duluan lari sampai kejalan raya hanya untuk melihat rombongan kampanye salah satu parpol (waktu hanya ada kuning, merah dan hijau) yang suara raungan knalpotnya sampai radius 1 km dari rumahku. Setelah rombongan lewat, kami pulang dengan balapan lari lagi.

Soal lari, tak berhenti sampai disitu. Tak hanya sekedar mengejar layangan putus. Aku suka dulu-duluan lari sampai ketengah sawah. Tak gentar musti kaki kebrusuk dari pematang. Demi apa?. Demi sepincuk nasi berlauk ikan asin secuil, dan seperdelapan telur rebus yang ditaburi sambal gepeng, sambal yang terbuat dari kedelai goreng yang tumbuk dengan lombok dan bawang. Sego petikan namanya. Dibagikan oleh empunya sawah ketika padi sudah siap dipetik (dipanen), sebagai ungkapan rasa syukur. Kalau musim panen, aku bisa tidak makan dirumah. Karena dalam sehari aku bisa makan gratisan beberapa kali. Sensasi berlari dan rebutannya itulah yang membuatku tak bosan dengan rasanya.

Senin, 20 April 2020


Guru jaman now dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengelola pembelajaran. Guru harus mampu mengakomodir kebutuhan pesera didik yang tentu saja berkembang dan berubah dari masa ke masa. Kegiatan belajar mengajar, bukan lagi hanya transfer informasi dari guru ke siswa, namun berisi misi penting didalamnya yaitu membangun nilai dan inspirasi. Perkembangan teknologi, membawa sistem baru di dunia pendidikan yaitu sistem belajar terdigitalisasi. Kelas digital sudah banyak diadaptasi, meskipun belum semua sekolah mampu menjangkau program belajar digital ini, karena sarana dan prasarana yang belum terfasilitasi.

Baik kelas konvensional maupun kelas digital, semua pembelajaran akan tidak berarti jika guru tidak mampu mengelola kelas secara kreatif dan inovatif. Tantangan terbesar guru adalah bagaimana menjadikan pembelajaran sesuai dengan prinsip 3M (Mudah, Menyenangkan dan Menyentuh hati). Apakah siswa sudah merasakan pembelajaran yang mudah, menyenangkan dan menyentuh hati?  Kenyataannya, banyak siswa yang stres karena tekanan berupa tugas – tugas yang tidak masuk akal. Mereka mengalami stres belajar antara lain disebabkan oleh tekanan akademik. Siswa tidak nyaman dengan guru yang mengajar dan materi yang sulit dipahaminya. Juga penggunaan metode yang tidak sesuai dan strategi yang monoton. Penyebab yang kedua adalah tekanan sosial, berupa tuntutan dari keluarga agar anak selalu berprestasi, selalu mendapatkan nilai yang perfect dan lebih unggul dari teman sekelasnya atau teman sebayanya.

Minggu, 19 April 2020

Memotret



Tidak semua orang suka dipotret. Saya salah satunya. Selain karena tidak fotogenik, dulu, orang yang mengambil gambar saya, suka saya protes, karena hasilnya kurang ini kurang itu atau harusnya begini harusnya begitu, sehingga mereka malas memotret saya. Jadilah, disetiap event bersama, saya lebih sering memotret daripada di potret.

Kata teman saya dulu, saya punya bakat jadi fotografer. Menurutnya, saya bisa mengambil moment dan menentukan angle yang pas sehingga hasil jepretan saya bagus. Itu menurutnya. Dan tentu saja, saja jadi besar kepala. Lalu tambah semangat mengambil jepretan demi jepretan.

Saya tidak pernah belajar teori pemotretan. Apalagi, waktu itu teknologi informasi belum secanggih sekarang. Mesti harus ke warnet yang bayar dua ribu sampai empat ribu perjamnya. Tidak bisa langsung googling via ponsel pintar seperti sekarang. Jadi mungkin itu bakat alami yang dianugerahkan Allah kepadaku.

Hanya saja, selanjutnya bakat tersebut tidak lagi aku kembangkan. Karena saya tidak punya cukup uang untuk mengupgrade kamera. Waktu itu baru keluar versi kamera digital, yang harganya tidak terjangkau oleh kantong saya. Terkadang saja, numpang memotret dengan kamera pinjaman.

Sabtu, 18 April 2020

Trik Pencarian di Google Search


Sekian lama berinteraksi dengan yang namanya mbah Google, ternyata saya tidak tahu kalau dalam pencarian atau istilah kerennya googling, terdapat trik yang bisa diaplikasikan. Berikut ini adalah beberapa triknya :

Pertama, gunakan tanda kutip untuk mencari kalimat dengan urutan kata yang sama persis dengan kalimat yang kita tuliskan di kolom google search, sehingga informasi yang didapatkan spesifik. Contohnya : “bentuk daun berdasarkan susunan tulang daun”, maka hasil pencarian akan memunculkan informasi spesifik sama seperti keyword yang dituliskan dalam tanda kutip ini.

Jumat, 17 April 2020

Pembeajaran Digital Ramah Anak (2)


Bagaimanakah pembelajaran digital ramah anak itu? Seperti yang sudah dikemukan sebelumnya, penggunaan perangkat digital, khususnya pada anak, harus memenuhi rambu – rambu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran Digital Ramah Anak. Tujuannya adalah menyiapkan anak menghadapi revolusi industri 4.0, sesuai dengan usia dan kebutuhan anak yaitu dengan memaksimalkan potensi anak, tetapi dibarengi dengan meminimalisir dampak negatif dari perangkat digital. Sebagai orang tua, tentu saja fenomena penggunaan perangkat digital ini menjadi dilema. Jika tidak mengenalkan perangkat digital pada anak, maka anak akan ketinggalan/gagap teknologi (gaptek). Apalagi di generasi mereka, sudah menjadi hal yang biasa, jika perangkat digital menjadi “mainan” sehari-hari, bahkan sebagian mereka sudah mahir dalam penggunaannya. Di sisi lain, jika orangtua mengenalkan perangkat digital pada anak, dan setelahnya lepas kontrol, anak bisa kecanduan dan terkena dampak negatif dari perangkat digital itu sendiri.

Kamis, 16 April 2020

Pembelajaran Digital Ramah Anak (1)


Menurut data dari Kualita Pendidikan Indonesa (KPI) dalam Kelas Digital (April, 2020), pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun 2018 ke 2019, tercata sebesar 1% , sedangkan pertumbuhan internet tercatat 13%, media sosial 15%, dan mobile media social sebesar 8.3%. Dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pertumbuhan internet dan media sosial 13 kali lebih besar dibandingkan pertumbuhan penduduk. Tahun 2013-2018 Indonesia Negara ke-6 pengguna internet tertinggi di dunia setelah China, US, India, Brazil dan Jepang. Menurut data dari Indonesia Millenial Report 2019 IDN Research Institute, sebanyak 94,4,% milenial Indonesia terkoneksi dengan internet*, 79% generasi milenial membuka smartphone 1 menit setelah bangun tidur. Sebanyak 30 juta anak Indonesia adalah pengguna internet.**

Rabu, 15 April 2020

Pengelolaan Digital Learning



Esensi dari pengelolaan digital learning sama dengan penggelolaan kelas seperti biasa, yaitu membentuk suasana kelas yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, dengan pengelolaan kelas guru dapat menghemat waktu dalam penyampaian bahan ajar dan penugasan, karena dengan suasana kelas yang kondusif, pembelajaran dapat berjalan efektif. Pengelolaan kelas juga secara tidak langsung, melatih kemandirian dan kolaborasi siswa selama proses pembelajaran

Penyelenggaran digital learning membutuhkan usaha dan persiapan yang tidak jauh berbeda dengan pembelajaran biasa di kelas. Guru harus mempersiapkan bahan ajar seperti, seperti slide presentasi dalam bentuk file ppt dan lembar penugasan (LKS). Bedanya, di digital learning, semua bahan ajar di sajikan dalam bentuk file bukan dalam bentuk fisik. Selain bahan ajar, tak kalah pentingnya guru juga mempersiapkan media pembelajaran. Di digital learning, media pembelajaran bisa disajikan melalui rekaman/video jika jenisnya medianya by design. Atau guru bisa mencari sumber media yang sudah tersedia di situs – situs pembelajaran online, sehingga guru tinggal mendownload dan memanfaatkan - media by utilization. Selain persiapan tersebut, dalam penyelenggaraan digital learning, guru memerlukan laptop/PC/smartphone, koneksi internet dan tool atau aplikasi belajar.

Selasa, 14 April 2020

Kelas Menulis

 

Lanjutan…



Hal yang bisa dilakukan pararel dengan editing antara lain : Pembuatan ilustrasi, pembuatan cover dan membuat proposal ke penerbit. Pembuatan ilustrasi, bisa segera dilakukan, terutama pada buku antologi cerita bergambar (cergam), dimana setiap segmen cerita ada ilustrasi yang menyertai, sehingga dapat menghemat waktu proses pembuatan buku. Selain ilustrasi, juga bisa dilakukan pembuatan coverCover yang buat sesuai dengan kesepakatan para penulis berdasarkan tema besarnya. Cover dibuat menarik dengan judul yang menarik sehingga mampu mengikat calon pembaca.

Senin, 13 April 2020

Era Belajar 4.0


Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini kita sudah masuk di era revolusi industri 4.0, dimana terjadi perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat. Di semua sektor, kerja manusia sedikit demi sedikit sudah mulai tergantikan oleh mesin. Delapan puluh tahun kedepan, bisa jadi hanya sedikit pekerja manusia, karena fungsi pekerjaan sudah terotomatisasi oleh teknologi internet yang tentu jauh lebih cepat. Maka untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, tentu diperlukan persiapan yang serius.

Dunia pendidikan tentu juga akan berubah. Kurikulum sudah mulai berbenah untuk mempersiapkan calon generasi abad 21. Pendidik harus siap merubah pembelajaran konvensional dengan pembelajaran digital, sesuai perkembangan teknologi. Mau tak mau, guru harus mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pembelajaran digital. Pandemi Covid 19 ternyata memberikan hikmah sebagai katalis bagi pembelajaran berbasis internet. Ruang kelas berpindah kerumah. Interksi KBM sepenuhnya secara daring. Rating download bermacam aplikasi belajar online, melonjak pesat.

Belajar online atau istilah kerennya e learning, mempunyai beragam bentuk. Tidak harus tatap muka sehingga peserta didik bisa belajar kapan saja dan dimana saja. E learning dikondisikan sedemikian fleksibel tanpa mengurangi esensi tujuan pembelajaran. Melihat peserta didik adalah generasi milenial kebawah, yang mana bercirikan mengutamakan gadget sebagai sumber informasi dan senang terhadap segala sesuatu yang cepat, mudah dan instan. Oleh karena itu pendidik harus mempunyai bekal bagaimana bisa berkolaborasi untuk mengelola, mencipta dan merancang sebuah pembelajaran dimana pembelajaran tersebut mampu mengakomodir ciri dan kebutuhan peserta didik jaman now tersebut.

Minggu, 12 April 2020

Kelas Menulis



Melanjutkan materi kelas menulis, kali ini tulisan saya masih seputar resume materi yang harus saya buat. Materi disampaikan oleh Ibu Ida Nurlaela tentang Langkah - langkah membuat antologi. Semoga bermanfaat.

Langkah – langkah membuat Antologi (1)

Ketika ingin membuat antologi maka yang tertama dilakukan adalah :

Pertama : memilih tema. Tema akan menentukan penulis siapa yang akan dilibatkan dalam pembuatan buku antolologi.

Tema yang dipilih terjkait dengan siapa yang akan menjadi konsumen dari buku itu. Apakah kalangan medis?. Jika antologi cerita, sasarannya apakah dewasa, remaja atau anak. Jika antologi artikel, apakah sasarannya orangtua (parenting), ilmiah (akademisi) dan lain-lain. Tema harus diusung berdasarkan kebutuhan pesar (pembaca) atau berdasarkan trend yang sedang booming, sehingga pembaca buku akan banyak dan buku bisa dicetak berulang.

Setelah menentukan tema, maka yang diperlu dilakukan adalah mengerucutkan tema menjadi subtema agar tidak terlalu umum. Misal parenting (umum), dikerucutkan apakah parenting tentang balita, remaja dewasa, atau parenting nenek terhadap cucu dan lainnya. Bisa dikerucutkan lagi berdasarkan sudut pandangnya, apakah diulas dari sudut pandang agama, psikologi, pengalaman pribadi atau lainnya.

Sabtu, 11 April 2020

Kelas Menulis



Mengisi kegiatan #dirumahaja, saya berinisiatif mengikuti kelas menulis. Kelas ini akan saya ikuti tiga bulan kedepan secara daring. Di kelas menulis, saya bertemu dengan teman - teman seperjuangan, yang juga sedang belajar menulis. Dalam satu bulan pertama, tugas saya adalah belajar mandiri materi kepenulisan, melalui video pembelajaran. Salah satunya adalah yang menjadi tugas saya adalah membuat resume materi buku antologi dari materi video Mas Cahyadi Takariawan. Berikut kupasan singkat tentang buku antologi menurut nara sumber.

Buku Antologi

Istilah antologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu kumpulan bunga. Makna antologi dapat diartikan sebagai kumpulan. Bisa kumpulan apa saja. Dalam konteks kepenulisan, buku antologi yang dimaksudkan adalah buku yang berisi kumpulan banyak tulisan. Satu buku ditulis oleh satu orang, berisi banyak tema atau satu tema ditulis oleh banyak orang, sehingga lahirlah istilah buku ramai-ramai atau buku keroyokan atau buku gotong-royong. Buku antologi yang dibahas pada resume ini adalah antologi yang ditulis oleh banyak penulis.

Contoh buku antologi antara lain : antologi cerpen (kumpulan cerpen oleh satu penulis, atau kumpulan cerpen yang ditulis oleh banyak penulis), antologi puisi, antologi narasi, antologi hikmah, dan antologi artikel ilmiah (studi kasus). Buku antologi juga bisa berseri. Misalnya buku antologi bertema pendidikan anak. Beberapa penulis, menulis naskah lalu kemudian menerbitkannya secara bertahap. Buku pertama berisi pendidikan anak usia balita, buku kedua usia kanak-kanak, buku ketiga usia remaja dan seterusnya. Terdapat dua alasan mengapa orang membuat buku antologi. Pertama alasan strategis dan kedua alasan taktis. Alasan strategisnya, yang pertama adalah : Mendapatkan cara pandang yang beragam, ditilik dari latar belakang penulis yang berbeda-beda. Buku yang ditulis oleh banyak penulis tentu akan melahirkan sudut pandang yang berbeda-beda. Kita dapat  memandang sebuah tema dari sudut pandang /latar keilmuan, pengalaman, daerah, suku agama yang berbeda, sehingga terjadi pengkayaan wawasan dari tema tersebut. Contoh : Sebuah buku antologi dengan tema KDRT. Maka buku tersebut akan berisi view/cara pandang terhadap KDRT menurut tinjauan agama, pikologi, hokum, undang-undang, budaya/kearifan lokal, pengalaman praktis berupa ragam corak kasus-kasus KDRT dan lain-lain, yang ditulis oleh berbagai penulis dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga isi buku tidak monoton dari satu sudut pandang penulis saja.

Alasan yang kedua, Mendapatkan pengalaman berharga yaitu inspirasi dari banyak kalangan, yang berkontribusi terhadap buku tersebut. Misalnya, buku antologi bertema perceraian. Penulis satu, pernah bercerai, dia lalu menuliskan pengalaman hidupnya sebagai single parent. Penulis dua, bercerita tentang pengalamannya sebagai korban perceraian orangtua. Penulis tiga, menuliskan tentang konflik hebat yang dialaminya dan akhirnya dia berhasil mengatasi konflik tersebut. Penulis lain akan menuliskan pengalaman yang beragam yang pernah dialaminya atau pernah dilihatnya. Pengalaman yang beragam tersebut memberikan inpirasi dan motivasi yang sangat kuat bagi pembaca.

Alasan yang ketiga, Mengumpulkan kepakaran dari berbagai bidang/disiplin keilmuan. Misalnya di sebuah buku antologi artikel ilmiah, sebuah tema/kasus diulas dari berbagai sudut pandang keilmuan/akademis yaitu : ilmu medis, hubungan luar negeri, kebijakan pemerintahan dan lain sebagainya. Hasilnya, akan muncul kepakaran ilmu di dalamnya.

Selanjutnya alasan taktis. Alasan taktis menurut Mas Cahyadi, adalah yang pertama menghadirkan citarasa atau nuansa tulisan yang beragam, karena ditulis oleh banyak orang yang berbeda dan beragam sudut pandangnya. yang kedua, Mengumpulkan sesuatu yang bersifat lintas generasi/lintas zaman.  Misal perjuangan kemerdekaan, penulis yang berkontribusi bisa berasal dari kalangan veteran (generasi tradisionalis dan baby boomers), kalangan generasi X, kalangan generasi Y (milenial), bahkan kalangan generasi Z. Alasan yang ketiha, Lebih menghemat waktu. Buku lebih cepat selesai dari pada membuat buku tunggal/mandiri. Dan alasan yang keempat, bisa menciptakan semangat dan kebersamaan. Kalau kita menulis sendiri, ada masanya kita jenuh, tidak sempat menulis, hilang mood dan semangat. Jika ditulis beramai-ramai,  antar penulis bisa saling menyemangati. Dalam prosesnya terdapat kerbersamaan dan saling memotivasi. Terakhir, Promosi buku lebih mudah. Setelah jadi, promosi bisa didukung oleh semua kalangan yang terlibat. Penulis ikut bertanggungjawab memasarkan/promosi.

 

Selain kelebihan, buku antologi juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Berikut ulasannya :Dalam prosesnya, naskah ditulis oleh orang yang beragam, maka kualitas dan corak tulisan jadi beragam. Hal ini menjadi masalah bagi editor dalam proses editing. Editor lebih sulit mengedit naskah dengan banyaknya jenis kualitas dan corak tulisan. Selain itu, rumit dalam memberikan hak royalti. Misal satu buku ditulis oleh 50 orang, maka 50 orang tersebut akan mendapatkan hak royalti. Jika royaltinya kecil, akan rumit dalam pembagiannya. Contoh lain, dalam hal beli putus, naskah dijual ke suatu penerbit, lalu nominal rupiahnya dibagi ke sejumlah penulis. Apakah semua mendapat bagian yang sama atau berbeda?. Bisa jadi tidak sama karena kualitas tulisan berbeda, panjang pendek berbeda, naskah juga bisa berasal dari penulis senior atau pemula. Jadi harus ada kesepakatan diawal. Apakah naskah dibeli dan mendapat royalti. Atau hanya hak keikutsertaan. Jika hak keikutsertaan, maka si penulis naskah berhak memberikan naskahnya ke penerbit lain.

Selanjutnya, buku antologi, kurang bisa fokus menciptakan popularitas seorang penulis, karena 1 buku ditulis oleh banyak orang, maka akan sulit membangun branding personal. Masalah yang akan muncul adalah siapa yang akan ditonjolkan namanya di cover buku. Tidak mungkin semua nama ditulis karena akan memenuhi cover dan mengurangi estetika. Buku antologi yang ditulis ramai-ramai, biasanya dicover  tertera hanya satu penulis saja, diikuti “dan kawan-kawan”. Bisa juga ditulis oleh penulis siapa dan komunitas apa. Selain nama penulis di cover, juga susunan naskahnya. Naskah siapa yang pertama, keberapa dan terakhir. Berdasarkan apa urutannya?. Apakah senioritas, kualitas, panjang pendek atau lainnya. Untuk mengantisipasi  hal ini, perlu perjanjian diawal untuk disepakati oleh semua penulis. Jika tidak sepakat, penulis boleh menyerahkan naskahnya ke proyek antologi lain.

Menurut penulis, setiap pilihan ada sisi positif dan ada sisi negatifnya. Buku antologi ada kelebihan dan kekurangannya. Buku tunggal/mandiri juga ada kelebihan dan kekurangannya. Hal yang pasti, kita tidak boleh terjebak dalam stereotip bahwa, buku antologi lebih buruk atau buku tunggal lebih baik. Masing-masing punya tujuan dan cara sudut pandang yang berbeda.

Sumber : Review materi kelas antologi oleh Mr Cahyadi Takariawan Dan Mrs. Ida Nur Laila.

febriketjil, 11 April 2002

Sebuah Resume

#TantanganGurusiana

Selasa, 07 April 2020

Kelas Onlineku




Sebelum Pandemi Covid 19, merdeka belajar sudah di sounding oleh Pak Menteri tidak lama setelah pelantikannya. Sebagai pendidik, esensi dari merdeka belajar, baru benar-benar kami rasakan ketika belajar di sekolah musti berpindah ke rumah, sebagai bentuk ikhtiar memutus mata rantai penyebaran virus corona. Pesan dari Pak Menteri, belajar dirumah harus tidak memberatkan siswa dan sesuai dengan kondisi sarana prasarana yang ada.

Keputusan mendadak dari Disdik Pendidikan Kota, membuat kami harus segera mengambil langkah. Stategi apa yang bisa diterapkan untuk memfasilitasi siswa belajar dirumah. Satu hari kami gunakan untuk koordinasi mempersiapkan teknisnya. Program belajar online ini kami namai "Istiqamah Online Class" dan kami populerkan dengan sebutan IOC.

Senin, 06 April 2020

K.E.P.O.



K. E. P. O. adalah istilah baru dalam kamus besar bahasa gaul Indonesia. Berangkat dari kepanjangan : Knowing Every Paticular Object, kemunculannya sebenarnya sudah lama dan sejak itu, istilah kepo cepat diadaptasi melalui sosial media dan juga melalui bahasa percakapan sehari - hari. Generasi milenial kebawah pastilah sudah tak asing lagi dengan maknanya. Kepo berarti ingin tau. Bisa juga berarti penasaran. Atau menurut translatenya, ingin tahu detail setiap hal.

Namun dalam perkembangannya, Kepo cenderung mengarah ke makna negatif, yaitu ingin tau rahasia seseorang, atau ingin tau gossip terbaru, atau ingin tau keburukan atau aib seseorang. Oleh karena itu, kepo sering ditujukan kepada seseorang dengan intonasi yang menyudutkan dan menghakimi. "Ihh..kepo!" atau "dasar kepo!" atau " ngapain sih kamu kepo banget deh", "jadi orang kok kepoan". seolah-olah istilah kepo ini bermakna negatif mau tau aja urusan orang.

Minggu, 05 April 2020

KereAktif



Jika saya boleh melahirkan istilah, maka menurut saya kreatif itu bukanlah adaptasi dari Bahasa Inggris Creative, tetapi bermula dari dua kata "kere" dan "aktif". "Kere" dalam istilah Jawa berarti miskin. Menurut filosofi hidup, karena keterbatasan dan serba kekurangannya, orang miskin itu akan jadi aktif melakukan sesuatu yang inovatif untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Ide - ide brilian, gagasan spektakular tak terduga lahir dari mereka yang terjerat oleh pakasaan kehidupan.

Mengalami sendiri bagaimana susahnya hidup dalam keterbatasan. Meskipun bapak saya PNS, namun kondisi keluarga kami tidak jauh berbeda dari kondisi keluarga lainnya. Di desa yang sebagian penduduknya hidup sederhana dari bertani, berternak dan berdagang, tentu laju perekonomian sangat lambat, apalagi kegiatan penduduk desa hanya skala lokal. Tahun sembilan puluhan, kala itu saya dan keluarga pindah ke desa kakek nenek dari Timor-timor, saat tugas pengabdian bapak berakhir. Waktu itu, Tim - tim, sebutan kerennya, masih menjadi bagian NKRI sehingga saya dan keluarga belum bisa dibilang "habis dari luar negeri". Umur saya 6 tahun waktu itu. Kondisi di desa tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal saya sewaktu di Tim-tim, sehingga saya tidak sulit beradaptasi. Jika orang bilang "masa kecil kurang bahagia", maka itu tidak berlaku bagi saya. Masa kecil saya sangat bahagia. Tentu tidak semuanya akan saya ceritakan disini, karena panjang kali lebar.